POJOKSEMERU.COM | LUMAJANG – Dugaan perselingkuhan antara seorang wanita bersuami berinisial Lia dengan seorang pria asal Probolinggo bernama Farid, yang diketahui bekerja sebagai sales kompor, mencuat setelah keduanya diduga kedapatan masuk sebuah hotel pada Jumat sore, 27 Februari 2026.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Lia yang diketahui masih memiliki suami sah terlihat datang bersama Farid ke hotel tersebut pada sore hari. Setelah beberapa waktu berada di dalam hotel, keduanya kemudian keluar untuk membeli makanan.

9874
Foto : Lia dan Farid saat berboncengan keluar dari hotel cari makan

Saat keluar hotel, keduanya terlihat berboncengan menggunakan sepeda motor milik Lia, yakni Honda Beat warna hitam kuning dengan nomor polisi N 5161 XXX. Setelah membeli makan, keduanya kembali ke hotel.

Namun pada malam harinya, Lia memutuskan pulang karena harus meninggalkan anaknya di rumah. Keesokan paginya, Sabtu 28 Februari 2026, Lia kembali datang ke hotel tersebut untuk menemui Farid di kamar tempatnya menginap.

Setelah itu keduanya pulang bersama dengan mengendarai sepeda motor secara beriringan. Mereka kemudian berpisah di Desa Kalipepe, Kecamatan Yosowilangun, tidak jauh dari rumah Lia. Lia kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.

Saat dikonfirmasi pada 28 Februari 2026, Lia mengakui perbuatannya dan meminta agar kejadian tersebut tidak diberitakan karena khawatir suaminya mengetahui.

“Saya salah, jangan sampai diberitakan nanti suami saya marah,” ujar Lia saat dimintai keterangan.

Sementara itu, Farid yang dihubungi secara terpisah melalui sambungan telepon seluler juga mengakui kesalahannya. Ia mengatakan saat itu sedang berada di Jember.

“Iya mas, saya salah. Saya masih di Jember, nanti saya akan ke Samean. Mohon jangan diberitakan,” ujar Farid melalui sambungan telepon.

Peristiwa ini pun menjadi perhatian warga sekitar. Terlebih saat ini umat Muslim tengah menjalani bulan suci Ramadhan, yang seharusnya menjadi momentum untuk menahan diri dan menjaga hawa nafsu serta memperbaiki perilaku.

Bulan puasa dikenal sebagai waktu untuk meningkatkan keimanan, memperkuat akhlak, serta menjauhi perbuatan yang melanggar norma agama maupun norma sosial. Karena itu, masyarakat berharap setiap individu dapat menjaga sikap dan perilaku agar tidak menimbulkan persoalan yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat. (Eka/Sep)